Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan Dibawah


Itulah judul essay saya yang ditujukan untuk mengerjakan tugas OKK UI yang dikumpulkan paling lambat tanggal 19 Juli 2008. Apabila essay saya tersebut terpilih menjadi 50 karya tulis terbaik maka akan dibukukan dan akan diterbitkan bukunya ke toko-toko buku di seluruh Indonesia. Buku tersebut berisi kumpulan 50 karya tulis terbaik yang terpilih menurut hasil penilaian panitia OKK UI 2008. Nantinya, penulis dari 50 karya tulis terbaik yang terpilih tersebut akan dijadikan 50 orang duta bangkit Indonesia.

Dalam menulis essay ini, saya terinspirasi dari kehidupan baik dari kalangan bawah, tengah, maupun atas. Mereka seharusnya mengerti apa yang dimaksudkan dari hadist tersebut. Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan dibawah. Berikut rangkuman essay saya yang nantinya akan dibukukan :

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

(H.R Bukhari Muslim)

Kalimat tersebut dapat kita temukan di hadist riwayat bukhari muslim. Hadist tersebut adalah hadist yang shahih. Namun, banyak dari kita khususnya bangsa Indonesia yang membalikan susunan-susunan kata tersebut menjadi tangan di bawah lebih baik daripada tangan di atas.

Semua itu disebabkan kebanyakan rakyat Indonesia lebih cenderung memposisikan dirinya pada posisi peminta-minta daripada sebagai pemberi. Seperti kita tahu, secara teori yang telah diajarkan di sekolah-sekolah bahwa lebih baik memberi daripada menerima namun lain kondisinya apabila dipraktekkan. Bila dipraktekan orang-orang lebih memilih lebih baik menerima daripada memberi. Bagaimana jadinya jika bangsa Indonesia lebih banyak presentase yang menerimanya daripada yang memberi. Apa yang terjadi di masa depan apabila ini tidak segera diberantas? Jawabannya singkat, Mental Indonesia di masa depan tidak akan berubah dari sekarang. Mungkin secara fisik berubah, namun tidak sama halnya jika secara mental. Mental tersebut telah tercipta dari generasi-generasi sebelumnya dan diturunkan kepada generasi setelahnya. Mental tersebut disebut dengan “MENTAL PEMINTA-MINTA”.

Coba kita lihat ke jalanan-jalanan terutama dekat dengan lampu lalu lintas. Ketika lampu merah menyala banyak sekali orang yang mendekati kendaraan-kendaraan. Mereka mereka semua berbeda-beda, ada yang membawa gitar lalu menyanyi di depan suatu kendaraan, ada yang menjajakan jualannya, ada yang menggendong anaknya, dan ada yang menuntun orang-orang buta atau penyakitan. Walaupun cara mereka berbeda-beda namun pada intinya adalah sama yaitu ingin meminta-minta.

Sejenak mungkin kita merasa kasihan kepada mereka, untuk sekali-sekali mungkin orang yang membawa kendaraan akan memberikan sedikit uang kepada orang yang meminta-minta. Namun, apabila orang yang meminta-minta tersebut terus-terusan meminta-minta yang hasilnya akan menjadikan meminta-minta sebagai profesi. Profesi tersebut akan membuat orang menjadi malas untuk berusaha, mereka hanya mengharapkan pemberian dari orang yang mau memberi yang jumlahnya tidak menentu kadang banyak kadang sedikit. Tidak jarang dari mereka yang akan melakukan penyelewengan sikap. Yang tadinya baik-baik saja, sewaktu-waktu mereka akan melakukan hal-hal yang negative seperti mencuri, merampok, menodong, dan sebagainya.

Mental peminta-minta juga ada di kalangan atas (pejabat, pemerintah). Mereka banyak yang memohon pemberian uang di luar gaji pokok mereka. Banyak dari mereka yang melakukan tindakan suap-menyuap ataupun KKN. Semua itu disebabkan karena mereka hanya ingin memuaskan kepentingan diri mereka masing-masing. Walaupun mereka telah dipilih oleh rakyat, banyak dari mereka tidak lagi mementingkan rakyat yang telah memilihnya sehingga dia bisa berada di kursi tertinggi di Negara kita. Bahkan Negara kita pun ikut meminta-minta kepada Negara lain. Padahal kita semua tahu Indonesia itu penuh dengan SDA yang melimpah yang belum di olah secara maksimal.

Contoh lainnya adalah ketika kasus permohonan keringanan biaya. Pada dasarnya, peringanan biaya ditujukan untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan dalam hal finansial. Walaupun ini ditujukan untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan biaya juga beberapa dari mereka yang memiliki kemampuan lebih juga ikut-ikutan memohon peringanan biaya. Banyak dari mereka yang memohon peringanan biaya membawa kendaraan pribadi untuk melakukan prosesnya dan mereka tidak sungkan-sungkan untuk berdemo agar permohonan biaya bisa didapatkan. Anehnya, setelah mereka dapat peringanan biaya, mereka bangga dan memberitahukan besar biaya akhir yang harus dibayar kepada orang lain. Mereka tidak malu dengan mobil-mobil pribadi mereka, mereka tidak malu dengan rumah-rumah mereka, mereka tidak malu pada bisnis-bisnis mereka, mereka tidak malu pada orang sekitar khususnya kepada RT untuk mengurusi surat keterangan tidak mampu. Padahal, jika kita mampu tetapi kita membuat surat keterangan tidak mampu akan membuat kita menjadi orang yang tidak mampu secara tidak langsung.

Generasi sebelumnya telah menggambarkan secara jelas kepada kita tentang mental peminta-minta. Figur peminta-minta sudah banyak contohnya. Biasanya apabila generasi sebelumnya telah bertindak demikian maka akan tecerminkan pada generasi setelahnya. Walaupun tidak terlihat secara jelas dan diajarkan secara jelas. Mental tersebut telah terpendam didalam diri seorang anak dari orang tua yang memiliki mental peminta-minta.

Maka dari itu lebih baik kita hilangkan generasi dengan mental peminta-minta ganti dengan generasi yang memberi. Semua hal berasal dari hal-hal yang kecil yang kemudian menjadi besar. Mulailah dari kita sendiri, lalu sebarkan kepada orang-orang terdekat kita. Apabila hal ini tercapai maka bangsa Indonesia akan maju tanpa mental peminta-minta didalamnya. Apabila rakyat sudah tidak menggambarkan mental tersebut, secara tidak langsung pemerintah yang berasal dari rakyat tidak lagi memiliki mental tersebut. Kondisi ini akan mengakibatkan kondisi Negara kita menjadi maju dan berkembang. Negara kita tidak lagi menjadi Negara yang selalu meminta-minta kepada Negara lain tetapi akan menjadi Negara yang akan memberikan bantuan kepada Negara lain. Impikanlah kondisi tersebut.

Budaya mental peminta-minta yang telah mendarah daging dan turun-temurun di Indonesia sekarang ini harus segera dikikis dan dihilangkan. Jangan sampai membalikkan hadist/ungkapan tangan di bawah lebih baik daripada tangan yang diatas. Kembalikanlah hadist/ungkapan tersebut menjadi tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah. Jika semua lapisan masyarakat kita semuanya sudah menjadi pemberi dan tidak ada yang mau menjadi penerima, alangkah bahagianya karena tidak ada lagi peminta-minta di negara Indonesia tercinta ini. Kita bisa menjadi negara pemberi bukan penerima. Kita menjadi negara yang membantu negara lain bukan yang dibantu. Indonesia bisa menjadi mercusuar dunia. Indonesia bisa menjadi pemimpin dunia. Mari kita bangun Indonesia baru, dengan semangat baru, dan mental yang baru. Bangunkan Indonesia dari tidurnya. Nyatakanlah bahwa sekarang kita harus berubah. Mimpikanlah kondisi Indonesia tanpa mental peminta-minta di dalamnya.

BANGKIT INDONESIA!!!

About these ads
Comments
15 Responses to “Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan Dibawah”
  1. Topan says:

    nice article….

  2. imam says:

    Asskum.
    muanteb kenn!!!!!!!
    Artikel kritis demi kebangktan bangsa.
    Moga2 buku anta laris jadi best seller di chart buku terbaik ditahun 2008.
    Ganbatte kudasai
    Wassalam

  3. imam says:

    kenapa ga tangan di kanan???

  4. dhilaaz says:

    wow.. sptnya sebuah essai yg menarik.. :)

    btw blh2 tukeran link.. :D ini yg kennylischer.blogspot.com itu ya? bikin blog baru nih? saya link ke sini aja?
    punya info ga ttg event FT?

  5. faisol says:

    terima kasih sharing ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol

    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  6. lischer says:

    @Imam

    Tangan kanan merupakan tangan yang baik. Tangan kanan merupakan simbol kebaikan untuk memberi bukan untuk meminta.

  7. lischer says:

    @Imam

    Tangan kanan merupakan tangan yang baik. Tangan kanan merupakan simbol kebaikan untuk memberi bukan untuk meminta.

    @faisol
    Silahkan buat, bila dijadikan referensi juga tidak apa-apa. Asalkan tidak ada tindak plagiat.

    @dhilaaz
    Terima kasih ya..
    ini kenny lischer (lumayan terkenal di internet^^). Selain memiliki blog di kennylischer.blogspot.com juga ada di lischer.wordpress.com^^. Tapi blog yang disini, berisi semua hasil2 pemikiran sendiri.

  8. orang dalam says:

    asw…

    mantab.
    esainya…

    siap2 menanti kesuksesan yak.!

  9. orang dalam says:

    ft jurusan apa, sis/bro?

  10. abang arse says:

    oi ken, pa kbr lo? ken, lo tau ga apa itu error bx-iteqmi atau tolong tanyain ama anak IT UI yg lo kenal dong barang kali ada yang paham cara ngilanginnya soalnya anak UI kan pinter2, dashboard blog gw ga bisa muncul abis make komen box version draft.blogger.com yg lnsung di bawah posting kayak WP, tlong ken thnx b4, coz google blm bisa ngasih jawaban

  11. sengat menggambarkan keadaan yang bisa dilihat dengan jelas sehari-hari. mereka adalah tipe orang yang lebih mendahulukan hak daripada kewajiban. Nice writing n keep going, i’ll be the one who support you

  12. lischer says:

    thank you for all my friends…

  13. Johansyah says:

    ok bgt ken secara keseluruhan, ada satu hal yg jadi pertanyaan. apakah pedagang lampu merah merupakan salah satu upaya meminta2?

    • lischer says:

      selama mereka berusaha untuk membuat diri mereka sendiri untuk tidak meminta-minta itu lebih baik daripada hanya pasrah untuk meminta-minta.

      Mungkin permasalahan yang akan muncul adalah bagaimana dengan orang-orang cacat?

      dalam hal fisik mungkin mereka tidak lebih baik dari kita. namun, banyak kok orang-orang cacat yang bisa memaksimalkan diri mereka untuk dapat tidak tergantung dengan orang lain. Justru yang seperti inilah yang mencapai kesuksesan.

  14. ayu andari says:

    iya betul,, byk orang cacat / tdk sempurna secara fisik bisa berkreatif, bertahan dengan kerja keras dan usaha serta bisa menampng tenaga kerja,,, mrk hbt kan daripada yang di trafic light yg hanya bisa mengulurkan tangan. Orang cacat td memang secara fisik dia tidak sempurna,,tetapi secara bathin bisa dibilang lebih sempurna dari orang normal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

    • 410,327 pendatang
  • Calendar

    August 2008
    M T W T F S S
    « Jul   Jun »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers

%d bloggers like this: